Menantang Maut. By :@Mcchxllisterr
Langit malam, diterpa angin kusam, dihidupkan oleh pendaran lampu lampu pinggir jalan. Warga warga kampung telah terlelap seolah dilahap oleh bunga tidur Seorang barian (dukun) tampak sedang bertapa disuatu ruangan khusus didalam rumahnya, yang didalamnya terdapat setumpuk kain putih seperti kafan yang sangat lebar terurai menutupi separuh ruangan itu, tak jauh dari situ terdapat pohon pisang besar yang diselimuti oleh sobekan kain tadi dan menutupi seluruh badan pohon pisang tersebut.
Selagi mulutnya komat kamit membaca mantra, tepat jam dua dini hari, datanglah seorang ibu tua dengan membawa anak gadisnya yang sudah gila, siibu lalu membuka percakapan dengan sang barian + : si ibu
- : sang barian
+ : Wahai barian, anakku menjadi gila, ia ditinggal menikah oleh mantan pacarnya yang biadab itu, tolong sembuhkanlah anakku dan beri si brengsek itu pelajaran
- : Bagiku, itu sangat mudah sekali, aku mempunyai banyak ilmu dan juga hantu peliharaan - : Tapi, peliharaanku juga tidak akan bekerja jika tidak mendapat imbalan yang setimpal, untuk apa mengerjakan sesuatu yang tidak menguntungkannya?
+ : Apapun itu, asalkan anakku kembali normal dan si biadab itu mati, aku akan memberikanmu apapun yang kupunya.- : Baiklah, aku akan memberikan pekerjaan terbaikku dan mengerahkan peliharaan kesayanganku.
Sang barian kemudian duduk dan kembali membacakan mantranya, selang lima menit seluruh pencahayaan di ruangan itu yang terbuat dari api mati lalu hidup kembali, sang gadis kemudian didudukkan sedikit jauh dari ibunya dan kain putih tersebut mulai bergerak, perlahan lahan semakin menggumpal ketengah, seperti ada seseorang didalam kain itu.
Kain tersebut kemudian mendekat ke arah sang gadis, dan melahapnya Gadis tersebut kini berada didalam gulungan kain itu bersama dengan arwah peliharaan sang barian, selang beberapa detik, sang gadis beeteriak histeris, dan kain itu mulai melilit tubuh gadis malang itu.
+ : ada apa?, ada apa barian?, mengapa kau menyiksa anakku? Lepaskan dia Sang barian kemudian menghentak sebuah mandau dengan sarungnya kelantai yang membuat teriakan gadis tersebut lenyap, namun prosesi masih berlangsung
Semakin erat kain itu melilit sang gadis, semakin histeris sang ibu
Tiba tiba kain tersebut seolah melepas sang gadis keluar Siibu mendekat ke anaknya dan menarik sang gadis ke pangkuannya dengan penuh air mata
- : tenanglah nenek tua, kau harus berbahagia, dia telah kembali normal, aku mengobatinya, kini berikan aku bayaranku dan besok malam kembalilah membawakan dua sesajian + : Baiklah, berapa yang kau inginkan?
- : Aku tidak meminta banyak, berikan saja aku perhiasanmu yang kau kenakan
+ : Ini, ambillah (sambil melepas kalung, gelang, dan cincin emas yang digunakan), besok aku akan kemari membawakanmu sesajian dan menunggumu membunuh bidab itu Paginya,
+ : Rani (anak sang barian)
- : Alang (sang barian)
- : Ranii, rani, kemarilah
+ : Ada apa ayah?
- : Pakailah perhiasan ini, lalu pergilah mencari kayu bakar, lalu juallah
+ : Baik ayah, terimakasih perhiasannya. Malamnya
+ : Si ibu
- : Alang (Barian)
+ : Heii kau alang, kini aku kembali membawakan perintahmu semalam, kini kau harus menepati janjimu membunuh biadab itu
- : Baiklah
Tanpa banyak bicara, sang barian kemudian membacakan sebuah mantra sambil mengelilingi kain putih kemarin Sambil mengayunkan mandaunya, sang barian seperti menari mengelilingi kain itu, lalu kain itu mulai menggumpal seperti sebelumnya, barian alang kemudian kembali duduk dan membuka mandau kesayangannya itu dari sarungnya lalu mengentaknya beberapa kali Hentakan mandau itu selalu diselingi teriakan yang hanya terdengar oleh si ibu tua itu, kemudian sang barian meminta gambar dari mantan si gadis itu dan menancapkannya di pohon pisang yang sudah ada disana menggunakan paku Kini alang mulai menari nari sambil mengayunkan mandaunya, kemudian mulai menebas pohon itu beberapa kali, tebasan pertama membuat kain putih yang membalut pohon itu mengeluarkan darah berwarna merah gelap, dan tebasan selanjutnya semakin membuat darah itu mengalir deras Semakin deras darah itu mengalir, semakin sakit telinga sang ibu mendengar teriakan seorang lelaki yang merasa sangat kesakitan Akhirnya sang barian berhenti dan kembali duduk mendekati si ibu.
+ : si ibu
- : alang (barian)
- : kini aku telah menyelesaikan tugasku, urusan kita selesai saat kau meletakkan dua sesajian itu di dekat pohon pisang sana
+ : baik datuk alang, terimakasih atas bantuannya + : ehh datuk alang, kemarin aku melihat anakku sepulang dari sini tampang lesu, seperti tidak ada seauatu dalam dirinya, apakah itu biasa?
- : tenang saja ibu tua, mungkin dia butuh waktu beberapa hari agar kembali pulih, biarkan saja kini taruh sesajian itu dan pergilah Paginya, rani terkejut melihat ruangan pribadi milik ayahnya, rani tidak menyangka perhiasan yang ia pakai adalah hasil haram yang pekerjaan ayahnya dengan mahluk lain
+ : rani
+ : apa apaan ini?, kukira ayah berhenti melakukan ritual sejak arwah itu membunuh ibu + : aku harus menghancurkan tempat ini
Kini ruangan itu berantakan karena telah dirusak oleh rani
Tiba tiba, kain itu kembali menggumpal dan menerkam rani dari belakang hingga iya seperti tersedot kedalam kain itu.
Tubuh rani kemudian teremas oleh kain itu tanpa ada teriakan.
0 Komentar